Jumat, 15 Mei 2015

Arti Menunggu Ku Selama Ini?

“Inikah Arti Menungguku?”

            “Kuhadirkan sebuah tanya untukmu.Harus berapa lama, aku menunggumu, Aku menunggumu....”
            Mungkin alunan lagu yang satu ini selalu menemaniku di sepanjang perjalanan ku saat ini. Hmm.. terdengarnya memang lagu yang melow. Tetapi ini lagu berkesan banget buat kehidupanku.
            Aku baru membaringkan tubuhku di kasur empuk kesayanganku ini. Terdengar nada yang selalu beralun indah saat ponsel ku menerima pesan baru. “Di dalam sebuah cinta terdapat bahasa, yang mengalun indah mengisi jiwa”. Ya ini nih lagu yang selalu menemaniku sepanjang hari-hariku. Enak sekali di dengar saat berada di posisi gelisah atau gundah.
            Ternyata dari Cakka, temanku yang selama ini berusaha mendekati ku dan sudah mencoba mengatakan bahwa dia suka padaku. Ku selama ini tak menggubrisnya karena hanya ucapan saja yang terdengar dari mulutnya dan smsnya akhir-akhir ini. Belum ada niatan untuk mengatakan keseriusannya pada ku. Kubuka sms itu tanpa semangat seperti biasanya. Sontak mataku melotot : “Lilis, aku bukan hanya suka aja sama kamu, melebihkan aku juga sayang sama kamu  :D”
            “Ah, yang benar saja. Tak mungkin lah kau ada perasaan sayang padaku. Buktinya kamu aja, selama ini apa berani untuk mengatakan dua mata kepadaku. Tidak!!. Selalu lewat sms, aku hanya butuh kamu serius dan keberanianmu berbicara langsung.” Gumamku dalam hati dan kulempar itu ponsel ke kasur lalu melanjutkan tidur tertunda ku tadi.
            Sinar mentari hampir menyeriangi wajahku: “Hoaamm.. ternyata sudah pagi juga”. Aku mengambil handuk lalu bergegas ke kamar mandi dan tak lupa ku berwudhu juga. Lalu ku lanjutkan menunaikan kewajibanku yang pasti Shalat Subuh. Jam dindingku telah menunjukkan pukul 06.00 WIB dan aku harus berangkat menuju sekolah.
            Santai berjalan menuju kelas, aku dikejutkan dengan pegangan tangan seseorang di pundakku. Ku menebak-nebak, eh ternyata dia si Cakka. “Kenapa sih kamu gak balas smsku semalem? Kamu marah atau bagaimana?”Lontaran pertanyaannya sontak mengagetkanku.
            “Aku capek, aku ngantuk. Dan di mohon lah mengerti itu jam sudah menunjukkan waktu nya orang tidur, jadi ya maaf kalau tak sempat ku balas.” Jawabku lalu ku tinggal dia dan menuju kelas.
            Suntuk banget di kelas. Tak ada hiburan, banyak jam kosong menyerbu kelasku.
            “Ahhh... Tak seru, tak ada ilmu ku dapat di hari ini. Sumpah bete banget.” Gumamku nyerocos dihadapan teman-temanku.
            “Yasudahlah, kan baru kali ini aja lis, lagian tumben ngebet banget pelajaran non? Aneh bin ajaib tau gak?.” Lontar teman di sebelahku.
            “Masa bodoh deh, lagi mood buat pelajaran banget ni.”
            Mengisi kekosongan jam ini yah kebiasaan ku mulai deh. Dengerin lagu, memang ini sudah menjadi hobi di sekolah pake banget.
            “Di dalam sebuah cinta terdapat bahasa, yang mengalun indah mengisi jiwa.                         Merendukkan kisah kita berdua.                                                                                                          Dan tak pernah bisa, akan terlupa.                                                                                                 Bila rindu ini masih milikmu.                                                                                                                    Kuhadirkan sebuah tanya untukmu.                                                                                                   Harus berapa lama.                                                                                                                                          Aku menunggumu.                                                                                                                                       Aku menunggumu.....”                                              
            Ya ini sebait lagu dari Peterpan yang Berjudul “Menunggu”. Entah semenjak aku kenal dengan Cakka, aku semakin gencar mendengarkan lagu ini. Mungkin ini efek aku dekat dengan dia.
            “Cakka..Cakka, kenapa sih kamu buat aku seperti ini?. Membuat aku bingung dengan perasaanku sendiri?. Di setiap sms mu kadang kau lontarkan kata “sayang”. Apa sesungguhnya arti itu?. Apa benar kamu sayang aku, atau hanya untuk mempermainkan perasaanku saja?.” Pikiranku melayang memikirkan pertanyaan-pertanyaan konyol itu.
            Semakin kesini, aku semakin terasa terpuruk ketika mendengarkan alunan lagi ini. Lagu ini dan hatiku seakan menyatu menjadi satu kesatuan. Sepertinya, isi lagu “Menunggu” ini bakal benar-benar terjadi deh sama aku. Aku tak tahu aku harus berbuat apa dan memperlakukan Cakka seperti apa.
            Salah satu teman ku tiba-tiba mengagetkanku : “Woii, bengong aja. Ngapain kamu, ngelamunin si Cakka ya?. Sudah lah jangan dipikirin, nanti juga ada jalannya. Pasti itu!” Ucap mengagetkanku, ucapan dari sahabat karibku sendiri.
            “Apa’an sih, siapa juga yang lagi mikirin itu cowok PHP” Jawabku sewot.                     
            Seketika aku kaget dan terbangun dari lamunanku, aku berucap dan mengatakan Cakka seorang PHP (Pemberi Harapan Palsu). Oh, tidak!. Kenapa bibirku bisa berucap seperti itu. Tetapi aku juga menyadarinya, semakin kesini Faisal sangat jelas menunjukkan perilaku PHP terhadapku.
            Lantas, aku langsung meninggalkan dia sahabatku dan pergi pulang. Baru beberapa langkah kaki ku berjalan, aku dihentikan oleh Cakka. Aku tak sama sekali mendengar pembicaraannya, seakan kuping ini ku tutup rapat-rapat dan bergegas pulang. Entah aku tak memikirkan betapa jengkelnya dia denganku. “Masa bodo” ucapku dalam hati.
***
            Sore ini, kakak sepupu ku datang berkunjung ke rumahku. Dia seorang psikolog hebat. Dan baiknya dia menyempatkan datang kerumahku demi memberikan solusi ampuh menangani si Cakka ini. Banyak sekali ocehan-ocehan ku tentang Cakka yang kuceritakan padanya. Dia aktif sekali menanggapiku. Dan sekarang ku ragu untuk mengatakan Cakka itu seorang PHP, tetapi kuberanikan diri mengucapkan itu. Sontak kakak mempelototi ku : “Kenapa kamu bisa beranggapan seperti itu kepada Cakka, Lis?.” Tanya Kakak mengagetkan lamunanku.
            “Hmm.. Nah sekarang coba kakak bayangkan. Bagaimana perasaan seseorang cewek kalo di beri perhatian, kebaikan dan sudah banyak bilang sukalah, sayanglah. Gak bakal menganggap cowok itu Pemberi Harapan Palsu, kalo dia nya sendiri tak mau serius dengan omongannya?. Serasa aku ini di gantung kak, dengan status kita sekarang.” Celotehku.
            “Iya kakak tahu, bagaimana perasaanmu. Tapi berfikirlah dewasa, bahwa sebenarnya “PHP itu sendiri tak akan terjadi kalau kita nya gak Gede Rasa”. Dan juga ya dek, belum tentu cowok yang kamu sebut dengan “Pemberi Harapan Palsu” sebenarnya akan melakukan itu kepadamu. Bisa jadi dia mendekatimu karena dia ingin kenal atau berteman, tetapi kamu sendiri yang terlalu berharap bahwa  hubungan kalian berdua akan lanjut ke jenjang selanjutnya. Andaikan seperti itu kamu sendiri gak bakal mencela anak orang dengan sebutan PHP lis.”
            “Terus aku harus bagaimana kak?. Aku sudah benar-benar frustasi dengan semua ini.”
            “Itu memang susah dek. Tetapi kamu sudah berani mengucapkan itu, berarti memang hatimu sudah tepat dengan pendapatmu itu. Ya sudahlah, jangan keluar nya seperti ini saja: Lebih baik mulai detik ini kamu tak usah berhubungan lagi dengan dia, agak lah menjauh dari dia. Kalau kamu tahu akan seperti ini selanjutnya, lebih baik mengantisipasi dan jangan sampai kamu terjatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya.”
            Aku tersadar aku berharap dengan orang yang salah. Mungkin saja Cakka hanya mengetes aku saja. Ya mulai detik ini juga aku bakal perlahan-lahan menghindar dari dia. Dia memang bukanlah orang yang tepat untukku. Dan Lagu yang selalu menemani hari-hariku ini tetap selalu terdengar di ponsel. Kenapa demikian?. Aku ingin bila semua ini terjadi lagi, aku akan selalu teringat dengan ucapan-ucapan Kakakku tadi. Dan aku akan selalu berhati-hati setiap berhubungan dengan seorang cowok.
            Dan hubungan ku saat ini dengan Cakka, layaknya seorang teman. Aku melihat dari gerak-gerik Cakka tak ada yang menunjukkan hubungan kita dulu akan berlanjut. Ya sudahlah,  ku jadikan ini semua sebagai pelajaran hidupku kedepannya.


Sabtu, 04 Januari 2014  15.11 WIB

Contoh Cerita Pendek Bertema Saling Tolong Menolong



“ HALUSNYA PEKERJAAN PETANI”

            Udara di pagi hari terasa sejuk, aku melihat hamparan sawah sangat asik dan menyenangkan. Rumahku tidak jauh dari sawah. Sehingga, jika aku ingin pergi ke sawah, tidaklah menghabiskan tenaga banyak. Pagi-pagi sekali, rasanya aku ingin sekali pergi kesawah yang berjejeran banyak sekali di desa sebelah rumahku.

            Melihat suasana sawah yang membuat hati tenang,  sebelum aku pergi mengunjungi petani di sawah, tidak lupa aku membawa bekal makan siang untuk makan aku di sawah nanti dengan para petani.

            Aku ingin sekali membantu meringankan  beban para petani, dan aku ingin sekali merasakan menjadi seorang petani yang sudah susah payah merawat padi untuk kelangsungan hidupku juga . Sedangkan aku melihat banyak para petani yang sudah terlebih dahulu berangkat dengan menuntun traktornya.

“Tiba di sawah Pak petani langsung bercocok tanam. Sebelum di bajak terlebih dahulu Pak tani mencangkul tanah tersebut supaya memudahkan pembajakan, kegunaan membajak sawah adalah supaya tanahnya gembur dan mudah di garab.”  Itulah sedikit ilmu yang aku ketahui tentang bercocok tanam di sawah.

            Di saat semua pada mengerjakan pekerjaannya masing-masing aku pun menghampiri mereka...

“Permisi Pak, selamat pagi.” Ucapku sambil tersenyum kepada mereka.

“Pagi adek , ada yang bisa bapak bantu.” Salah satu Pak tani menjawab .

“Perkenalkan nama saya Ramadhania, bisa di panggil Rani , saya adalah anak dari desa sebelah .” Aku memperkenalkan diri.

“Pak bolehkah saya membantu bapak dalam bercocok tanam ini, saya ingin merasakan menjadi seorang petani.” Lanjutku dengan suara agak keras dan lugas.

“Perkenalkan nama bapak Agus Soeherman. Yang benar adek mau belajar menjadi petani? Apakah adek tidak jijik, kalau saja adek harus ikut dengan pekerjaan bapak ini, kan adek juga harus masuk ke dalam lumpur yang sangat kotor ?.”

“Benar dong pak. Buat apa saya jauh-jauh dari desa sebelah, kesini kalau tidak untuk belajar menjadi seorang petani. Kalau masalah jijik dan kotor, itu mah tidak masalah pak, Nah maka dari itu saya ingin merasakannya. Bagaimana rasanya menjadi petani dan bagaimana juga cara untuk menghasilkan padi dan menjadi nasi yang tiap hari saya makan pak !”. Menceloteh dengan sedikit ketus.

“Ya sudah kalau memang itu kemauan adek. Mari turun mengikuti bapak mengerjakan pekerjaan ini.” Sambil mengulurkan tangannya ke padaku.

            Di samping aku melepas sepatuku dan turun ke dalam sawah yang di penuhi lumpur yang sangat kotor . Ku lihat Bu Anik istri pak Agus  memilih-milih bibit padi yang bagus dan siap  di tanam pada lahan yang sudah di bajak oleh Pak Agus . Sedang kan tugas pertamaku adalah menanam padi yang sudah di pilih Ibu tadi, kemudian aku menaburi pupuk sedikit demi sedikit. Dan yang terakhir menyemprotkan obat tanaman agar hasil tanamannya bagus dan menghasilkan beras yang berkualitas tinggi.

            Sungguh betapa senangnya hatiku bisa membantu meringankan pekerjaan Petani ini, ternyata menanam padi sangatlah mudah dan menyenangkan, tetapi dari semua pekerjaan yang aku coba tadi , banyak sih yang kurang sesuai dengan yang di inginkan. Tetapi alhamdulilahnya ada Pak Agus yang selalu menuturi dan memberi intruksi ketika aku melakukan kesalahan.

            Sambil menanam padi aku bermain lumpur sawah dan mengibas-ngibaskan bajuku yang basah terkena air lumpur sawah, Ibu dan Bapak cuma tersenyum melihatku.

            Matahari sudah diatas kepala, dan udara sudah terasa panas sekali,  aku mengambil Capeng (jawa:penutup kepala) milik Ibu Anik sebagai penutup kepala.  Tidak lama kemudian  ibu menyusul menanam padi di sampingku.

Ibu berkata pada Ku, ” Nak apa kamu tidak capek ” ??????

“ Capek sih Buuu ” jawab Ku.

“ Ya  sudah. Kamu istirahat dulu sana di gubuk. ”  perintah Ibu.

“ Nanti sajalah Bu, saya istirahatnya bersama-sama saja sekalian makan siang dan sholat duhur.”

            Beberapa jam kemudian terdengar suara Azan sudah di kumandangkan.  Aku, Bapak ,dan Ibu Tani membersihkan diri berwudu di sungai yang tidak jauh dari gubuk. Setelah itu kami berjama’ah sholat duhur di gubuk yang kecil cukup untuk istirahat  petani yang ada di sawah dan gubuknya terletak di tengah-tengah bentangan sawah yang luas.

            Setelah selesai sholat aku menyiapkan makan siang untuk kami dan ternyata Ibu juga membawa bekal.

“ Ee’mm, enaknya makan dengan  lauk ikan teri, sayur bening, di tambah sambel goreng sebagai penyemangat makan.” kataKu.  Apa lagi makannya di tengah – tengah hamparan sawah yang hijau, ee’mmm tambah nikmat rasanya.

            Kami makan, sambil memandang sawah yang baru selesai di garab. Selesai makan kami melanjutkan pekerjaan seperti semula. Terik matahari semakin terasa panas. Tapi aku  tetap semangat dalam membantu ibu dan bapak tani ini untuk melanjutkan pekerjaan. Supaya pekerjaan mereka cepat terselesaikan, beberapa saat kemudian pekerjaan mereka terselesaikan.

            Pak Agus dan Bu Anik terasa puas setelah semua pekerjaan terselesaikan. Lingsir matahari terlihat condong dari sebelah barat, itu menandakan kami harus segera berkemas-kemas untuk pulang kerumah.  Akupun terasa puas bisa membantu pekerjaan kedua  petani ini.
            Hari semakin sore, aku pun berpamitan dan mengucapkan terima kasih banyak pada mereka berdua. Mereka pun sedikit memberikan bekal nasehat untukku.

“Terima kasih pak Agus dan bu Anik, Rani sudah di terima tadi menjadi petani sementara disini , dan sedikit demi sedikit membantu pekerjaan bapak dan ibu , tapi maaf kalau tadi mungkin saya banyak melakukan kesalahan.”

“Bapak dan ibu juga berterima kasih banyak juga, karena dek Rani hari ini telah membuat pekerjaan kami terselesaikan dengan baik sebelum batas waktunya. Selama tadi adek membantu kami memang banyak lah kesalahan tetapi apa salahnya kalau adek salah, kan juga adek baru belajar menjadi seorang petani. Bapak juga engga akan marah.”

“Wah makasih buanyak deh pak untuk seharian yang berkesan ini.  Oh ya, apakah sekarang saya bisa mendapat gelar seorang petani nih pak ?.”

Mereka pun tertawa mendengar pertanyaanku barusan .

“Kamu itu memang lucu. Semua orang baik itu kecil, remaja maupun dewasa bisa menjadi seorang petani hebat, kalau mereka sungguh-sungguh dan ingin bekerja keras demi apa yang dia inginkannya kelak, sama hal nya dengan dek Rani. Meskipun banyak kesalahan, tetapi dari kesalahan itu adek bisa belajar dengan benar bagaimana cara sesungguhnya dan akhirnya bisa toh.” Jelas Pak Agus.

“Dan kalau memang dek Rani ingin bisa dan berhasil itu semua harus hasil dari diri kita sendiri, caranya dengan belajar dan terus belajar. Mempelajari dari apa yang belum kita bisa, terus mencari tahu sesuatu hal yang belum kita ketahui, dan ingat kita harus menjadi orang yang selalu ingin tahu dalam segala bidang, bukan berarti kita harus mengingin tahui privacy atau kepribadian orang.” Lanjut Bu Anik.

“Iya Pak,Bu. Makasih nasehatnya. Pasti saya akan terapkan semuanya dalam keseharian saya. Saya engga akan lupa dengan semua nasehat tadi.” Jawab ku.

“Jadi kalau saya mau kesini lagi dan belajar lebih mendalam lagi tentang pertanian , pasti boleh kan Pak Bu ??.” Pinta aku.

“Sangat boleh dek, apalagi rumah adek dekat. Pasti kami berdua aka selalu menerima kedatangan adek untuk belajar dengan kami lagi di sini.” Jawab mereka berdua dengan tersenyum senang.

“ Baiklah pak bu, saya mau permisi pulang dulu, karena sudah mau menjelang magrib.”

“Iya , hati-hati di jalan ya.” Sambil melambai-lambaikan tangan mereka padaku.

“Membantu seseorang itu sesuatu hal yang menyenangkan. Contohnya membantu petani dalam mengerjakan pekerjaannya sebagai petani. Mungkin bagi sebagaian remaja jaman sekarang pekerjaan seperti ini adalah pekerjaan yang membosankan dan jadul. Padahal jauh sekali dari perkiraan mereka, malahan bukan hanya kesenangan yang di dapat tetapi ilmu bercocok tanam pun di peroleh. Mungkin memang perlu ketelatenan, tapi kalau memang kita sungguh ingin bisa pasti ketelatenan itu akan kita dapat.” Ucap ku dalam hati, sambil melangkah keluar rumah Pak Agus.
           
            Dan menurutku pekerjaan seperti ini adalah pekerjaan yang halus, yang hanya mengeluarkan sedikit air keringat, tetapi akan kembali segar lagi apabila semua pekerjaan terselesaikan dan hasilnya pun memuaskan.

            Dan jika orang lain bisa, maka kita pun juga pasti bisa dan harus bisa ! Kuncinya BUKAN pada kepandaian, namun pada niat dan tekad untuk mau berhasil dan bisa, serta strategi yang kita terapkan dalam mengerjakan apapun. Ingat kesuksesan selalu milik kita yang berani mencoba, dan di kehidupan ini, apa-apa yang tidak mungkin hanya seringkali belum pernah dicoba. Jadi jangan takut untuk mencoba berbagai macam hal ...


Kenangan-kenangan tersapu noda debu



Kenangan Usang

Ku duduk terdiam...
Mataku hanya tertuju ke sebuah bingkai yang usang itu
Tergeletak di meja pojok kamar ku
Ya, bingaki kenangan masa lalu
Bingkai foto ku bersama sahabat karib ku

Usang dan berdebu
Selama ini aku lupa merawatmu
Semenjak kita berpisah lama
Ku tak pernah sekali pun menyentuh nya

Seketika kuteringat jelas wajah mereka teriang-iang di kepalaku
Teringat sekali kebersamaan kita dahulu
Betapa indahnya semua itu

Ingin rasanya ku mengulang ke masa itu
Kebersamaan, Kekeluargaan kita jalin dengan erat
Dan ku teringat visi dan misi kita bersama
“Satukan tekat, untuk mencapai keberhasilan”
Mungkin itu hanya ucapan yang sudah kadaluarsa

Sekarang...
Semua sirna, lenyap pergi jauh...
Entah kemana perginya kau kawan
Tiada sepucuk surat pun mampir di posku
Untuk memberi kabar kepadaku
Setiap ku tengok, sama seperti semula “kosong”
Tak ada isi di dalamnya

Tetapi aku tahu, kau pasti merindukanku
Sekarang yang bisa kulakukan
Hanyalah berdoa, semoga kau sehat disana
Cukuplah bingkai kecil ini saja yang menemani sepanjang hariku kedepan
Aku sayang kalian, kawan


Karya
Sulistyo Rahayu Ningrum

Rasa Syukur kepada Allah S.W.T



Syukurku

Senja yang indah dipagi hari ini membangunkanku.
Pancaran sinarnya memaksa mataku terbuka lebar.
Dan menyambut pagi ini dengan bersyukur.
Bersyukur kepada-Nya yang telah memberikan nafas lagi.

Ku terbangun dan berdiri dari kasur empukku.
Bergegas mengambil sepercik air wudhu dan menunaikan kewajibanku,
Kewajibanku untuk bekalku di akhirat nanti.
Bukan hanya itu,  aku pun mengiringi nya dengan bersedekah di pagi nan cerah ini.

Memberikan sedikit hartaku untuk mereka yang membutuhkan.
Sekali lagi ku bersyukur, telah bisa memberikan hal yang bermanfaat bagiku kelak dan bagi mereka.
Hati ini seketika menjadi tentram setelah kewajibanku itu terlaksana.
“Alhamdulillah” turut terucap kembali dari bibirku.
Semoga ini menjadi hari yang indah dengan jalannya.
Dan aku bisa menikmati kembali terbangun di esok hari.