“Inikah Arti Menungguku?”
“Kuhadirkan sebuah tanya untukmu.Harus berapa lama, aku
menunggumu, Aku menunggumu....”
Mungkin alunan lagu yang satu ini selalu menemaniku di
sepanjang perjalanan ku saat ini. Hmm.. terdengarnya memang lagu yang melow.
Tetapi ini lagu berkesan banget buat kehidupanku.
Aku baru membaringkan tubuhku di kasur empuk kesayanganku
ini. Terdengar nada yang selalu beralun indah saat ponsel ku menerima pesan
baru. “Di dalam sebuah cinta terdapat bahasa, yang mengalun indah mengisi jiwa”.
Ya ini nih lagu yang selalu menemaniku sepanjang hari-hariku. Enak sekali di
dengar saat berada di posisi gelisah atau gundah.
Ternyata dari Cakka, temanku yang selama ini berusaha
mendekati ku dan sudah mencoba mengatakan bahwa dia suka padaku. Ku selama ini
tak menggubrisnya karena hanya ucapan saja yang terdengar dari mulutnya dan
smsnya akhir-akhir ini. Belum ada niatan untuk mengatakan keseriusannya pada
ku. Kubuka sms itu tanpa semangat seperti biasanya. Sontak mataku melotot : “Lilis,
aku bukan hanya suka aja sama kamu, melebihkan aku juga sayang sama kamu :D”
“Ah, yang benar saja. Tak mungkin lah kau ada perasaan
sayang padaku. Buktinya kamu aja, selama ini apa berani untuk mengatakan dua
mata kepadaku. Tidak!!. Selalu lewat sms, aku hanya butuh kamu serius dan
keberanianmu berbicara langsung.” Gumamku dalam hati dan kulempar itu ponsel ke
kasur lalu melanjutkan tidur tertunda ku tadi.
Sinar mentari hampir menyeriangi wajahku: “Hoaamm..
ternyata sudah pagi juga”. Aku mengambil handuk lalu bergegas ke kamar mandi
dan tak lupa ku berwudhu juga. Lalu ku lanjutkan menunaikan kewajibanku yang
pasti Shalat Subuh. Jam dindingku telah menunjukkan pukul 06.00 WIB dan aku
harus berangkat menuju sekolah.
Santai berjalan menuju kelas, aku dikejutkan dengan
pegangan tangan seseorang di pundakku. Ku menebak-nebak, eh ternyata dia si Cakka. “Kenapa sih kamu gak balas smsku semalem? Kamu marah atau
bagaimana?”Lontaran pertanyaannya sontak mengagetkanku.
“Aku capek, aku ngantuk. Dan di mohon lah mengerti itu
jam sudah menunjukkan waktu nya orang tidur, jadi ya maaf kalau tak sempat ku
balas.” Jawabku lalu ku tinggal dia dan menuju kelas.
Suntuk banget di kelas. Tak ada hiburan, banyak jam
kosong menyerbu kelasku.
“Ahhh... Tak seru, tak ada ilmu ku dapat di hari ini.
Sumpah bete banget.” Gumamku nyerocos dihadapan teman-temanku.
“Yasudahlah, kan baru kali ini aja lis, lagian tumben
ngebet banget pelajaran non? Aneh bin ajaib tau gak?.” Lontar teman di
sebelahku.
“Masa bodoh deh, lagi mood buat pelajaran banget ni.”
Mengisi kekosongan jam ini yah kebiasaan ku mulai deh.
Dengerin lagu, memang ini sudah menjadi hobi di sekolah pake banget.
“Di dalam sebuah cinta terdapat bahasa, yang mengalun
indah mengisi jiwa. Merendukkan
kisah kita berdua.
Dan tak pernah bisa, akan terlupa.
Bila rindu ini masih milikmu.
Kuhadirkan sebuah tanya untukmu.
Harus berapa lama.
Aku menunggumu.
Aku
menunggumu.....”
Ya ini sebait lagu dari Peterpan yang Berjudul
“Menunggu”. Entah semenjak aku kenal dengan Cakka, aku semakin gencar
mendengarkan lagu ini. Mungkin ini efek aku dekat dengan dia.
“Cakka..Cakka, kenapa sih kamu buat aku seperti ini?.
Membuat aku bingung dengan perasaanku sendiri?. Di setiap sms mu kadang kau
lontarkan kata “sayang”. Apa sesungguhnya arti itu?. Apa benar kamu sayang aku,
atau hanya untuk mempermainkan perasaanku saja?.” Pikiranku melayang memikirkan
pertanyaan-pertanyaan konyol itu.
Semakin kesini, aku semakin terasa terpuruk ketika
mendengarkan alunan lagi ini. Lagu ini dan hatiku seakan menyatu menjadi satu
kesatuan. Sepertinya, isi lagu “Menunggu” ini bakal benar-benar terjadi deh
sama aku. Aku tak tahu aku harus berbuat apa dan memperlakukan Cakka seperti
apa.
Salah satu teman ku tiba-tiba mengagetkanku : “Woii,
bengong aja. Ngapain kamu, ngelamunin si Cakka ya?. Sudah lah jangan
dipikirin, nanti juga ada jalannya. Pasti itu!” Ucap mengagetkanku, ucapan dari
sahabat karibku sendiri.
“Apa’an sih, siapa juga yang lagi mikirin itu cowok PHP”
Jawabku sewot.
Seketika aku kaget dan terbangun dari lamunanku, aku
berucap dan mengatakan Cakka seorang PHP (Pemberi Harapan Palsu). Oh, tidak!.
Kenapa bibirku bisa berucap seperti itu. Tetapi aku juga menyadarinya, semakin
kesini Faisal sangat jelas menunjukkan perilaku PHP terhadapku.
Lantas, aku langsung meninggalkan dia sahabatku dan pergi
pulang. Baru beberapa langkah kaki ku berjalan, aku dihentikan oleh Cakka. Aku
tak sama sekali mendengar pembicaraannya, seakan kuping ini ku tutup rapat-rapat
dan bergegas pulang. Entah aku tak memikirkan betapa jengkelnya dia denganku.
“Masa bodo” ucapku dalam hati.
***
Sore ini, kakak sepupu ku datang berkunjung ke rumahku.
Dia seorang psikolog hebat. Dan baiknya dia menyempatkan datang kerumahku demi
memberikan solusi ampuh menangani si Cakka ini. Banyak sekali ocehan-ocehan ku
tentang Cakka yang kuceritakan padanya. Dia aktif sekali menanggapiku. Dan
sekarang ku ragu untuk mengatakan Cakka itu seorang PHP, tetapi kuberanikan
diri mengucapkan itu. Sontak kakak mempelototi ku : “Kenapa
kamu bisa beranggapan seperti itu kepada Cakka, Lis?.” Tanya Kakak mengagetkan
lamunanku.
“Hmm.. Nah sekarang coba kakak bayangkan. Bagaimana
perasaan seseorang cewek kalo di beri perhatian, kebaikan dan sudah banyak
bilang sukalah, sayanglah. Gak bakal menganggap cowok itu Pemberi Harapan
Palsu, kalo dia nya sendiri tak mau serius dengan omongannya?. Serasa aku ini
di gantung kak, dengan status kita sekarang.” Celotehku.
“Iya kakak tahu, bagaimana perasaanmu. Tapi berfikirlah
dewasa, bahwa sebenarnya “PHP itu sendiri tak akan terjadi kalau kita nya gak
Gede Rasa”. Dan juga ya dek, belum tentu cowok yang kamu sebut dengan “Pemberi
Harapan Palsu” sebenarnya akan melakukan itu kepadamu. Bisa jadi dia
mendekatimu karena dia ingin kenal atau berteman, tetapi kamu sendiri yang
terlalu berharap bahwa hubungan kalian
berdua akan lanjut ke jenjang selanjutnya. Andaikan seperti itu kamu sendiri
gak bakal mencela anak orang dengan sebutan PHP lis.”
“Terus aku harus bagaimana kak?. Aku sudah benar-benar
frustasi dengan semua ini.”
“Itu memang susah dek. Tetapi kamu sudah berani
mengucapkan itu, berarti memang hatimu sudah tepat dengan pendapatmu itu. Ya
sudahlah, jangan keluar nya seperti ini saja: Lebih baik mulai detik ini kamu
tak usah berhubungan lagi dengan dia, agak lah menjauh dari dia. Kalau kamu
tahu akan seperti ini selanjutnya, lebih baik mengantisipasi dan jangan sampai
kamu terjatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya.”
Aku tersadar aku berharap dengan orang yang salah.
Mungkin saja Cakka hanya mengetes aku saja. Ya mulai detik ini juga aku bakal
perlahan-lahan menghindar dari dia. Dia memang bukanlah orang yang tepat
untukku. Dan Lagu yang selalu menemani hari-hariku ini tetap selalu terdengar
di ponsel. Kenapa demikian?. Aku ingin bila semua ini terjadi lagi, aku akan
selalu teringat dengan ucapan-ucapan Kakakku tadi. Dan aku akan selalu
berhati-hati setiap berhubungan dengan seorang cowok.
Dan hubungan ku saat ini dengan Cakka, layaknya seorang
teman. Aku melihat dari gerak-gerik Cakka tak ada yang menunjukkan hubungan
kita dulu akan berlanjut. Ya sudahlah,
ku jadikan ini semua sebagai pelajaran hidupku kedepannya.
Sabtu, 04 Januari
2014 15.11 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar